Anak Balita
Pun Kecanduan Merokok...

KOMPAS/IWAN
SETIYAWAN
Ilham
Hadi (8), bocah asal Sukabumi yang kecanduan merokok, mengamati ikan di
akuarium di kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak di Jakarta, Senin (19/3).
Ilham akan menjalani rehabilitasi selama sebulan untuk menghilangkan kecanduan
rokok yang telah empat tahun dialaminya.
Oleh Lusiana Indriasari
Ilham
Hadi (8) terlihat asyik mengaduk-aduk akuarium di kantor Komisi Nasional
Perlindungan Anak di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sejurus kemudian, ia
tampak resah. Matanya mulai liar mencari-cari sesuatu.
Ia
kemudian berlari menghampiri Nenah (31), ibu kandungnya yang sedang berada di
ruangan lain.
”Rokoknya
mana... mau rokok... rokok...!” kata Ilham. Nenah hanya terdiam melihat
permintaan anaknya. Ia sedikit menyingkir karena Ilham mulai terlihat hendak
menyerang ibunya yang ikut menemani Ilham ke kantor Komisi Nasional
Perlindungan Anak (Komnas PA), Senin (19/3).
Agan
Umar (35), ayah Ilham, mencoba membujuk anak pertamanya itu untuk membeli
jajanan atau mainan. Namun, Ilham tidak menggubrisnya. Mulut mungilnya terus
mencerocos meminta rokok.
Emosinya
mulai naik karena tidak ada satu pun orang dewasa di situ yang mau memenuhi
permintaannya. Ia mulai memukul, menendang, atau menjambak ayah-ibunya, dan
juga Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait.
Mencontoh paman
Ilham
dibawa ke kantor Komnas PA untuk direhabilitasi. Ia diantarkan oleh
orangtuanya; petugas Puskesmas Desa Karawang Girang, Kabupaten Sukabumi—kampung
halaman Ilham—serta Kepala Dinas Kesehatan Sukabumi Adrialti Syamsul.
Sejak
berumur empat tahun, Ilham sudah mengenal rokok. Ia mencontoh orang dewasa.
Menurut Agan, Ilham sering berkumpul dengan paman dan orang-orang dewasa lain
yang duduk-duduk minum kopi sambil merokok. Ia melihat, mencoba merokok, dan
akhirnya kecanduan merokok.
Bocah
kecil yang seharusnya masih menikmati masa kanak-kanaknya itu kini kecanduan
rokok. Ia sering kali kehilangan kendali dirinya ketika tubuh mungilnya mulai
meminta asupan nikotin. Setiap hari, dua bungkus rokok bisa dihabiskan oleh
Ilham.
Menurut
Adrialti, tingkat kecanduan Ilham terhadap nikotin dari rokok sudah sampai pada
level berat. ”Secara psikologis, Ilham sudah bergantung pada nikotin. Jika ia
tidak mengisap rokok, perilakunya menjadi kasar. Selain memukul, ia juga
merusak benda-benda di sekitarnya,” kata Adrialti.
Ketika
otak sudah tidak bisa mengendalikan perilakunya, mata Ilham menatap tajam. Ia
semakin gelisah, lalu berjalan ke sana kemari sambil mulutnya berulang kali
memaki dengan kata-kata kasar. ”Kalau sudah tidak bisa dikendalikan, saya
menyerah. Saya terpaksa memberikan rokok kepada Ilham,” tutur Agan lirih.
Ilham
hanyalah satu dari banyak bocah kecil yang kecanduan nikotin dari rokok.
Manajer Program Komnas PA Lisda Sundari mengungkapkan,
temuan-temuan kasus seperti Ilham yang kebetulan diungkap wartawan hanya yang
tampak di permukaan.
Sebagai
gambaran, dari 2010 hingga sekarang, Komnas PA menemukan sedikitnya 20 kasus
anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang menjadi perokok aktif. ”Data
resmi Kementerian Kesehatan tentang anak balita yang merokok aktif tidak ada.
Pemerintah hanya mengeluarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang
meneliti perokok aktif pada anak usia 10-14 tahun,” kata Lisda.
Untuk
perokok aktif usia 10-14 tahun, data Riskesdas menunjukkan terjadi peningkatan
yang mengejutkan. Dari 1995 hingga 2010, jumlah perokok aktif usia 10-14 tahun
melonjak enam kali lipat. Jika pada 1995 jumlah perokok aktif usia 10-14 tahun
”hanya” sekitar 71.000 anak, pada 2010 menjadi 426.000 anak. ”Saya yakin jumlah
usia perokok aktif di bawah usia 10-14 tahun juga banyak,” ujar Lisda.
Mengganggu kecerdasan
Selain
Ilham, kasus lain yang pernah terangkat ke permukaan adalah kasus Aldi (2,5),
warga Desa Telukkemang, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan,
dan Sandi (4) dari Malang, Jawa Timur. Aldi yang anak tukang sayur ini mulai
merokok sejak berumur 11 bulan dan dalam sehari ia bisa menghabiskan empat
bungkus rokok, demikian juga dengan Sandi.
Dampak
rokok terhadap kesehatan anak-anak sama seperti orang dewasa. Rokok bisa
menyebabkan kanker paru-paru, gangguan jantung, terhambatnya perkembangan anak,
dan masih banyak lagi. Karena rokok, nafsu makan Ilham menurun. Ia termasuk
anak yang mengalami kekurangan berat badan karena berat badannya hanya 18
kilogram. Anak seusia Ilham seharusnya memiliki berat badan minimal 28
kilogram.
Dampak
rokok juga bisa menurunkan hemoglobin atau kadar oksigen dalam darah. Hal ini
bisa menyebabkan gangguan kecerdasan dan fungsi organ tubuh lain.
Anak-anak
balita yang kecanduan rokok ini sering kali tidak mampu mengendalikan dirinya.
Keterbatasan untuk mendapatkan rokok, terutama karena tidak memiliki uang,
membuat bocah-bocah kecil ini rela berbuat apa saja. Agan bercerita, anaknya baru
mau sekolah kalau dibekali sebungkus rokok dan uang Rp 10.000.
Agan
yang bekerja sebagai buruh serabutan tidak mampu memenuhi permintaan Ilham.
Demi mendapatkan uang untuk membeli rokok, Ilham tidak lagi sekolah lalu
bekerja menjadi tukang parkir di sebuah minimarket yang berjarak 2,5 kilometer
dari rumahnya. Kalau benar-benar tidak memiliki uang, ia nekat mencuri di rumah
tetangga.
Perilaku
Ilham tidak bisa ditangani lagi oleh dinas kesehatan setempat, terutama dari
sisi penanganan psikologis Ilham. Adrialti mengatakan, di Kabupaten Sukabumi
mereka hanya memiliki dokter spesialis anak dan tidak memiliki psikolog atau
psikiater.
Sore
itu, Ilham diserahkan ke kantor Komnas PA untuk direhabilitasi. Arist Merdeka
Sirait mengatakan, proses rehabilitasi Ilham membutuhkan waktu sedikitnya satu
bulan. Ia akan menjalani terapi fisik dan psikologis.
Di
Indonesia, jumlah perokok aktif mencapai 65 juta orang. Indonesia termasuk tiga
besar jumlah perokok aktif.
Menurut
Arist Merdeka Sirait, dalam soal kampanye bahaya merokok, ”Negara telah kalah
oleh kepentingan kepentingan industri rokok.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar